Indonesian Waqf Board is an independent state institution formed based on Law Number 41 of 2004 concerning Waqfs. This Board was formed in the framework of developing and advancing representatives in Indonesia.
Secretariat: Bayt Al Quran Building Beautiful Indonesia Miniature Park (TMII)

Jl. Raya TMII Pintu 1 - Jakarta Timur 13560

CONTACT >

T: +6221-87799232

     +6221-87799311

F: +6221-87799383

E: bwi@bwi.or.id

ABOUT US >

  • Facebook
  • YouTube
  • Instagram

visitor since May 18, 2019

visitor since June 1, 2019 (Flag Counter Installed)

Prof. Mohammad Nuh : Potensi Wakaf Dahsyat

JAKARTA, Pandangan secara konvensional masyarakat tentu berwakaf pada sebidang tanah saja atau harta tertentu saja. Mungkin saja pandangan tersebut bukanlah pandangan yang salah. Namun, seiring berjalannya waktu perubahan bentuk dan teknis dalam pengelolaan wakaf yang lebih potensial terus terjadi hingga pada terbukanya informasi akan wakaf yang telah kita wakafkan. Bahkan para wakif pun bisa melihat perkembangan harta wakaf yang telah mereka keluarkan.

Ketua Badan Wakaf Indonesia Prof. Mohammad Nuh, mengatakan potensi yang bisa diambil dari wakaf sangat dahsyat. Saat ini, potensi wakaf yang telah berada di bawah Badan Wakaf Indonesia (BWI) segera akan ditransformasikan menjadi produktif.

“Tahapan untuk menjadi produktif kita bereskan status tanah. Oleh karena itu kita kerjasama dengan BPN untuk mempercepat proses sertifikasi tanah wakaf,” terang mantan Menteri Pendidikan era SBY, pada Media Gathering dan Bincang Wakaf Produktif, Selasa (14/5).

Lebih jauh, M. Nuh, menjelaskan wakaf terbagi dua cara atau niat. Di mana mewakafkan untuk kegiatan sosial dan wakaf secara cash, dengan uang.

Dirinya mencontohkan tanah wakaf yang berada di Tanah Abang, Jakarta. Di mana ada tanah wakaf seluas 3,5 hr, yang peruntukkannya untuk sosial, seperti untuk masjid, sosial dan sebagainya.

“Peruntukkannya untuk masjid dan sosial. Kami sedang mengajukan kepada Gubernur DKI untuk dirubah peruntukkannya selain untuk sosial. Namun, bisa dijadikan komersial yang nantinya bisa untuk menggerakkan yang sosial,” paparnya.

Untuk wakaf cash, M. Nuh, menjelaskan untuk nominalnya tentu tidak dibatasi untuk jumlah nominal, termasuk dengan waktu yang fleksible.

“Wakaf temporer diperbolehkan. Oleh karena itu kita kerjasama dengan BI dan kementerian Keuangan untuk wakaf Sukuk. Bisa dibayangkan, jika seperti Karyawan yang ada di Bank Indonesia ada 1000 karyawan, satu bulan membayar wakaf Rp100rb, berapa jumlah yang bisa dikelola dan itu memungkinkan karena sistem sudah menggunakan digitalisasi. Kita ingin memungkinkan yang tidak mungkin ini semua menjadi mungkin,” tandasnya.