Indonesian Waqf Board is an independent state institution formed based on Law Number 41 of 2004 concerning Waqfs. This Board was formed in the framework of developing and advancing representatives in Indonesia.
Secretariat: Bayt Al Quran Building Beautiful Indonesia Miniature Park (TMII)

Jl. Raya TMII Pintu 1 - Jakarta Timur 13560

CONTACT >

T: +6221-87799232

     +6221-87799311

F: +6221-87799383

E: bwi@bwi.or.id

ABOUT US >

  • Facebook
  • YouTube
  • Instagram

visitor since May 18, 2019

visitor since June 1, 2019 (Flag Counter Installed)

OPTIMALISASI PEMANFAATAN TANAH WAKAF DI KOTA JAMBI

Bahrul Ma’ani

Wakaf merupakan aset publik, yang menjadi harapan besar masyarakat untuk dikelola dan dimanfaatakan secara optimal baik secara material maupun spiritual. Selama ini ada 676 persil tanah wakaf di Kota Jambi dimanfaatkan hanya untuk kepentingan spiritual, tanah-tanah kosong dan tanah disekitar masjid/langgar, madrasah dan sosial belum dimanfaatkan untuk kepentingan ekonmi sebagai mata pencaharian masyarakat. Karena itu tanah wakaf penting untuk diteliti melalui penelitian kualitatif dengan mewawancarai berbagai elemenelemen masyarakat dan stakeholders yang berkaitan dengan perwakafan. Dan analisis data, yaitu analisa yang mengarah kepada interpretasi penuh atas faktafakta dan teks-teks tentang sosial keagamaan yang relevan dan tetap memperhatikan normatif nas } . Penelitian ini menggunakan pendekatan normatif, diskreptif dengan memakai teori progresif sebagai teori pokok yang dikembangkan oleh Satjipto Raharjo, didukung oleh teori H. Islam tentang wakaf yang bersumber dari al-Qur‟an, al-Hadis, sahabat dan pemikir Islam kontemporer serta Undang Undang Nomor 41 Tahun 2004 dan Peratuan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2006 untuk merekonstruksi pemanfaatan wakaf secara optimal. Karena selama ini ia dimanfaatkan secara tradisional dan mempertahankan status quo tanpa melihat peluang untuk bermitra dengan kalangan pengusaha dan swasta lainnya agar aset wakaf menjadi icon dalam menunjang ekonomi masyarakat khusunya Kota Jambi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa wakaf tanah tidak berfungsi secara optimal disebabkan oleh 4 faktor, Pertama, nazhir sebagai pengelola wakaf tidak memiliki kompetensi akademis dan manajerial untuk mengembangkan aset wakaf, akibatnya ia tidak dapat dimanfaatkan secara produktif. Kedua, berdasarkan temuan di lapangan, stigmatisasi Syafi‟i masih cukup dominan dalam masyarakat untuk mempertahankan status qou yang berorientasi. Ketiga, nazhir, wakif dan ahli waris tidak memiliki kompetensi akademik sehingga malas mengelola wakaf terutama wakaf khai > ri, karena selama diangkat menjadi nazhir, ia tidak memperoleh upah atau imbalan apapun. Ke-empat, mauquf ‘alaih (nazhir, KUA, Kementerian Agama Kota dan Kementerian Agama Propinsi), kurang berkoordinasi dalam pendataan tanah wakaf dan ada kecenderungan petugas wakaf menghilangkan data, apabila data wakaf itu mengalami problem yang akut. Akibatnya tahun 2010 ada 46 persil tanah wakaf yang dihilangkan oleh pihak Kemenag Kota, di samping untuk menghindari permintaan Kemenag pusat untuk menghilangkan beban kerja yang sulit terurai tanpa ujung, juga terjadi penyimpangan oleh oknum untuk kepentingan pribadi.

 

to Download..click Url :

or click :